Akhirnya aku sampai pada di titik penuh cahaya. Rasanya seperti setiap jalan yang kulewati menaruh banyak harapan baru yang gemerlap dan nyaman dilihatnya.
Perasaan-perasaan senang itu jatuh melandai menghampiri gadis yang sudah lelah menemui luluh lantak. Gemuruh riuh nasibnya yang tidak selalu berpihak padanya sudah berani ia hempas menyatu dengan ribuan tumpukan sampah tak berguna.
Lalu apa yang selanjutnya ia hampiri? Ya, sinar matahari. Helaan napas dalam yang berarti melegakan itu, begitu senang ia miliki. Senyumannya yang mulai nampak setelah hilang seperti ditelan bumi kala itu, kini terlihat sudah tidak malu-malu. Ia hadir kembali.
Alunan nada yang laun mendayu sudah tidak terdengar lagi, terganti oleh nada-nada indah yang ceria dan itu membuatnya terdengar semakin bahagia.
Harapan-harapan yang baru muncul kemudian. Satu persatu yang ditulisnya menjadi kenyataan. Terbang bernuansa layaknya Tinkerbell yang akhirnya bertemu dengan cahaya. Suara-suara kecil lonceng menemani tiap langkahnya yang pasti.
Terlihat sekali, dia menyayangi dirinya sendiri.
Agaknya penulis kebingungan menuliskan secara rinci bagaimana perasaannya kini. Penuh dengan senyum. Oh tidak, dia mewarnainya dengan tertawa kecil sesekali. Aku bangga. Entah apa yang ia temukan hingga perasaannya yang saat ini hadir dapat ia kembangkan.
Bak bunga nusantara yang tertaruh dan terhampar pada tanah ribuan hektar, semerbak wanginya selalu dirindukan karena mampu membuat senyum hadir di setiap insan dalam waktu yang lama. Ia kembali bertemu sinarnya, bertemu bahagianya, bertemu dirinya.