Kamis, 01 Mei 2025

Lima: Prudence

Sampai. Sampailah aku pada halaman terakhir di laman pribadiku yang sebenarnya tidak terlalu pribadi atau rahasia. Tiga bagian laman kutulis dengan bermacam emosi dan perasaan, yang selaras dengan waktu saat itu juga. 

Memulainya dengan Peterpan. Beberapa orang mungkin tahu isi dari tulisan yang kubuat di laman itu. Beberapa orang mungkin sadar ketika mereka membacanya dengan saksama. Beberapa orang mungkin akan tersenyum atau bahkan tertawa geli, dan sedikit hampa. Tapi, itu memang Peterpanku yang kutulis tanpa mesin waktu. Bersama perasaan-perasaan suka dan labil, seperti remaja.

Kemudian Wendy. Perasaan yang berada di tengah-tengah pemulihan hati. Perasaan yang sesekali tenang dan kacau, silih berganti. Perasaan yang terkadang hangat hingga dingin sekali. Semuanya ada pada bagian Wendy. Huruf-huruf tersusun dengan sadar menjadi kalimat yang memiliki makna. Beberapa orang akan mengerti. Beberapa orang pasti mengerti. Karena, ya. Apakah kita yang sedang tumbuh ini akan pulih bersama luka dan kembali bahagia seperti Wendy? 

Tinkerbell, bagian terakhirku. Bagian terakhir tulisan yang menemaniku di sela-sela permainan peran sebagai seorang gadis juga mahasiswi. Bagian terakhir aku menulis ratusan kata yang kupublikasikan pada banyaknya sepasang mata. Bagian terakhir yang mengiringi suasana-suasana sepanjang kesenjangan perjalananku. Bagian puncak, di mana aku akhirnya menemukan jalan pulang pada diriku sendiri. Akhirnya. Akhirnya, aku mengatakan itu. Senang seperti selalu menari di atas lantai dansa tanpa alas kaki. Beralunan dengan melodi indah yang beradu antara nada dan waktu. Menulis bagian ini layaknya menghirup udara dengan tenang sambil tersenyum dan memejamkan mata, lalu tiba-tiba serasa di surga.

Kehati-hatianku menuntun aku pulang ke rumah. Semuanya nampak baik-baik saja, dan memang baik-baik saja. Aku berjalan, lebih cepat, lalu berlari memotong dan meninggalkan hal-hal yang membuat air mataku turun berkumpul pada telapak tanganku yang kosong. Aku menuju diriku dengan kehati-hatian dan hatiku.

Semoga aku (kita) sampai pada rumah yang penuh dengan cinta diri sendiri. Sampai jumpa, dan aku selesai.

Senin, 14 April 2025

Empat: Lyra

Terang sekali. Untuk pertama kalinya aku melihat bayangan seseorang yang bersinar. Sangat berbeda, tidak sepertiku, tidak seperti kebanyakan manusia. Tidak, itu bukan hal yang menyeramkan. Aku hanya mempresentasikan seseorang dalam keindahan.

Belum sampai bertemu dengan ribuan individu, aku sudah kalap kali ini. Haha, aku tertawa gemas dan juga malu. Mengapa ini bisa terjadi lagi padaku? Kukira habis kisahku di bagian paling abu-abu, kemarin. Tapi rupanya malah jauh lebih berbunga dan merah muda, kali ini.

Geli sekali, aku senyum-senyum sendiri. Aku masih tidak percaya ini benar-benar terjadi tanpa banyak interaksi. Lagi-lagi, aku jatuh hati.

Aku berpesan pada setiap malam yang kumiliki. Agar aku terus merasakan hal yang menyenangkan hatiku lebih banyak lagi. Entah siapa pelakunya, aku tetap menyukai perasaan-perasaan menggelitik sampai membuatku terus tersenyum tanpa henti. Aku akan menerima semua hal indah dengan senang hati. 

Oh tidak, aku sungguh ingin melompat karena ini seperti bukan DNA yang kumiliki.

Jika rasi bintang terlihat lebih indah dipandang dari belahan bumi utara, seperti Lyra. Aku akan berlari ke sana. Tapi, tak perlu sampai utara pun sudah kugenggam bintang yang jauh lebih terang dari Lyra. 

you!

Like water in the desert

Impossible to find

But you found me when I was broken

Put me back together, gave me life

Like a flower in the concrete

So beautiful and rare

You gave me hope when I was empty

Walked me through the fire, you were there

You're the sun to the moon

You're my ocean painted blue

You, I'm nothing without you

Like an angel in a nightmare

You opened up my eyes

Lookin' in all the wrong places

You're the one I needed this whole time

You're the sun to the moon

You're my ocean painted blue

You, I'm nothing without you

You're the light in the dark

You're the arrow through my heart

You, I'm nothing without you

You're the air to my lungs

You're the veins to my blood

Yeah, you, I'm nothing without you

Senin, 24 Maret 2025

Tiga: Violet

Ini Violet. Penamaan setiap judul pada bagian tulisan Tinkerbell rasanya tak benar-benar kuperhatikan, namun mampu membuatku berbunga-bunga. Tidak ada alasan yang istimewa dalam tujuan Violet kali ini. Aku hanya tersenyum saat menuliskan ini. Spektrum antara warna biru dan ultraviolet tiba-tiba saja terlihat melewati sudut penglihatanku. Lagu Fearless - Taylor Swift kembali terdengar dengan berisik dalam pikiranku. Jari-jari tanganku tergelitik menyusun setiap kata yang saat ini mungkin sedang dibaca olehmu.

Apakah aku jatuh suka lagi? (aku tidak tahu, ini benar-benar lucu).

Sejak kapan perasaan ini benar-benar menghuni hatiku kembali? Di mana kau berhasil temukan cara untuk bertamu pada gadis yang mulai tak peduli dengan perasaan-perasaan lugu itu lagi? Bagaimana bisa kau menaruh kata kagum untuk aku kuasai? Oh, tuan aku tidak tertolong, jantungku mulai kembali berdegup kencang, hatiku tak bisa kukendalikan lagi, dan lagi.

Apakah aku jatuh hati lagi? (aku tidak tahu, ini benar-benar lucu).

Buku harian lamaku yang isinya sangat monoton itu, yang isinya hanya penuh dengan kemarahan dan patah hati tidak jelas itu, sudah tak pernah kubuka lagi. Aku menemukan Violetku. Aku menemukan buku harianku yang baru. Perasaan-perasaan kecil menyenangkan seperti lahir kembali dalam diriku. Geli, tapi aku menyukai perasaan ini.

Apakah aku jatuh cinta lagi? (aku tidak tahu, ini benar-benar lucu).

You're everything I want 'cause it's always been that way. And I don't know why but with you I'd dance in a storm in my best dress. Fearless.

Rabu, 08 Januari 2025

Dua: Embun

(Desember)-Selamat datang di bulan senyum selanjutnya. Tidak kusangka, bulan ini diwarnai dengan hal-hal menyenangkan yang tak terduga. Makanya kuberi saja julukan bulan senyum dariku, olehku, dan untukku.

Hal-hal yang membuatku mengingat kembali perasaan-perasaan bodoh itu akhirnya dapat membuatku tertawa. Perasaanku mulai hilang berjatuhan perlahan bagai embun yang hadir di setiap ujung daun dan rerumputan jalan. Begitulah hilangnya, perlahan tapi pasti. Lagu dari Regina-Cutiest Pair menemaniku sesering itu. Tak jarang aku bertemu sedih lagi, tapi sepertinya itu sudah menjadi hal yang biasa kuhadapi.

Berhenti dulu, sepertinya gadis ini terlalu percaya diri?

Lalu, tiap butiran embun kini selalu kutemukan pula saat di mana waktu masih membutuhkan jarak untuk menjumpa mentari. Aku berlari, sesekali kupetik beberapa bunga kecil yang tumbuh liar di sepanjang jalan ini. Segelimat senyum kemudian hadir. Wah, aku tidak percaya aku sampai di sini. Rasanya seperti menjadi gila karena terlalu senang sendirian.

Banyak orang mengira bahwa aku selalu memiliki energi penuh setiap hari. Ya, mereka tidak tahu saja betapa aku sangat menjaga itu sampai aku benar-benar membutuhkan waktu sendiri. Dan berlari ditemani embun pagi adalah tempat dan hal yang paling kusukai. 

Jadi, aku memilih embun.

Selasa, 10 September 2024

Satu: Sinar Matahari

 Akhirnya aku sampai pada di titik penuh cahaya. Rasanya seperti setiap jalan yang kulewati menaruh banyak harapan baru yang gemerlap dan nyaman dilihatnya.

Perasaan-perasaan senang itu jatuh melandai menghampiri gadis yang sudah lelah menemui luluh lantak. Gemuruh riuh nasibnya yang tidak selalu berpihak padanya sudah berani ia hempas menyatu dengan ribuan tumpukan sampah tak berguna.

Lalu apa yang selanjutnya ia hampiri? Ya, sinar matahari. Helaan napas dalam yang berarti melegakan itu, begitu senang ia miliki. Senyumannya yang mulai nampak setelah hilang seperti ditelan bumi kala itu, kini terlihat sudah tidak malu-malu. Ia hadir kembali.

Alunan nada yang laun mendayu sudah tidak terdengar lagi, terganti oleh nada-nada indah yang ceria dan itu membuatnya terdengar semakin bahagia.

Harapan-harapan yang baru muncul kemudian. Satu persatu yang ditulisnya menjadi kenyataan. Terbang bernuansa layaknya Tinkerbell yang akhirnya bertemu dengan cahaya. Suara-suara kecil lonceng menemani tiap langkahnya yang pasti.

Terlihat sekali, dia menyayangi dirinya sendiri.

Agaknya penulis kebingungan menuliskan secara rinci bagaimana perasaannya kini. Penuh dengan senyum. Oh tidak, dia mewarnainya dengan tertawa kecil sesekali. Aku bangga. Entah apa yang ia temukan hingga perasaannya yang saat ini hadir dapat ia kembangkan.

Bak bunga nusantara yang tertaruh dan terhampar pada tanah ribuan hektar, semerbak wanginya selalu dirindukan karena mampu membuat senyum hadir di setiap insan dalam waktu yang lama. Ia kembali bertemu sinarnya, bertemu bahagianya, bertemu dirinya.

Lima: Prudence

Sampai. Sampailah aku pada halaman terakhir di laman pribadiku yang sebenarnya tidak terlalu pribadi atau rahasia. Tiga bagian laman kutulis...